ِ Segala puji bagi Alloh yang masih memberikan nikmat iman, islam, serta rahmat dan hidayahnya untuk menjalani aktifitas sampai hari ini.
Senantiasa kita harus bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh SWT. karena hanya dengan bersyukurlah berarti kita mengakui bahwa kita tidak ada apa-apanya dihadapan Alloh SWT.
Dalam surat Ali-Imran ayat 185 menerangkan : “setiap yang mempunyai jiwa pasti akan merasakan mati”. ini membuktikan bahwa kita hidup di dunia itu tidak kekal. kita hidup di dunia itu untuk memeprsiakan bekal untuk diakhirat nanti yaitu dunia yang tidak ada lagi kata mati, dunia yang kekal abadi, dunia dimana diperlihatkan kepada kita amalan-amalan yang sudah kita perbuat selama kita hidup di dunia yang fana dan penuh dengan tipuan.
Ikhwatu iman rahima kumullah, mati adalah satu dari sekian rahasia Allah terhadap makhluk-Nya selain jodoh dan rizki. Kita memang tidak akan pernah tahu kapan sang ajal menghampiri, yang kita tahu pasti hanyalah bahwa ia tidak mungkin terlambat meski sedetik -apalagi lupa ataupun alpa- dari kewajibannya dari waktu yang sudah ditentukan untuk menjemput kita. Ia bisa datang setahun lagi, seminggu lagi, lusa, esok pagi saat matahari terbit, atau bahkan detik ini juga.
Sungguh anehnya, karena kerahasiaan akan waktu datangnya ajal itulah yang kemudian membuat kebanyakan manusia lupa akan keniscayaannya. Disaat itulah, kita seakan tak pernah berfikir bahwa kesempatan yang diberikan Allah didunia ini hanya sesaat, layaknya orang yang sekedar mampir singgah untuk melanjutkan perjalanan menuju kehidupan yang lebih kekal.
Kita selalu mengganggap bahwa hidup di dunia akan dijalani begitu lama, sehingga seringkali waktu yang ada tersia-siakan tanpa makna. Dunia dengan keindahan dan kenikmatannya telah melenakan kita dari mengingat mati. Sehingga pada masanya ajal itu tiba, sebagian besar manusia merasa Allah terlalu cepat mengirimkan Izrail kepadanya.
Lain halnya dengan orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dengan segala kebesaran-Nya dan segala kekuasaan-Nya termasuk urusan mati. Dzikrul maut menjadi lafasnya sehari-hari, maka hari-harinya pun dimanfaatkan untuk mengumpulkan bekal taqwa untuk kehidupan selanjutnya, sehingga mereka selalu siap kapanpun utusan Allah datang untuk membawanya menghadap.
Mereka bahkan begitu sadar akan datangnya hari dimana mereka harus menghadap Tuhannya. Mereka tahu bahwa mereka akan malu jika bertemu Allah dengan wajah penuh dosa dan kehinaan. Orang-orang seperti ini, meski sudah sedemikian banyak berbuat kebaikan, infaq dan shodaqohnya sedemikian tak terhitung, malam-malamnya tak pernah sepi dari air mata khauf (takut) Allah tidak menerima semua amalan-amalannya dan roja’ (penuh harap) Dia menggolongkannya ke dalam ummat yang diberi nikmat.
Keindahan dan kenikmatan dunia bukan penghalang bagi mereka untuk terus mengingat mati, justru mereka sangat takut kedua hal tersebut akan melenakannya dari mengingat mati. Meski disisi lain, banyak saudara-saudara kita yang sudah jauh terjerumus dalam kesesatan dunia. Mereka tidak menyadari hakikat diberikan-Nya semua kenikmatan tersebut yang sesungguhnya adalah untuk disyukuri agar senantiasa mengingat SANG PEMBERI KENIKMATAN Alloh SWT.
Ikhwatu iman rahima kumullah, karena kekhawatirannya akan dunia yang melenakan itulah, kadang tidak sedikit orang-orang yang beriman memilih “mati muda” sebagai jalan terbaiknya. Dengan jalan yang sudah disyariatkan Allah dan dicontohkan para sahabat Rasulullah, mereka senantiasa menentang maut mempertaruhkan ajal untuk memerangi kemaksiatan dan kezhaliman.
Ikhwatu iman rahima kumullah, kapanpun datangnya, sekarang ataupun nanti saat usia kita sepuh, apapun caranya, berperang atau berdiam diri, dimanapun tempatnya, di medan perang ataupun di tempat tidur, saat ia datang sudah seharusnya kita telah memenuhi atas perbekalan kita dengan sebanyak-banyaknya bekal taqwa. Sehingga, Izrail pun tersenyum dan bangga saat menghampiri bahkan dengan bangga menghantarkan ruh ini ke hadapan Sang Khaliq.
Tidak akan pernah ada yang dapat menghalangi malaikat izraa’il mencabut nyawa seseorang. sesuai dengan firman Alloh surat An-Nisa ayat 78 : “Dimana pun kalian berada dalam keadaan apapun maut pasti kan menghampiri walaupun kalian berada di benteng yang tinggi lagi kokoh….”
Sabda Rasulullah SAW : “Orang yang paling cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian” (H.R. Tirmidzi).
Karena dengan banyak mengingat kematian kita bisa mendapatkan hikmah diantaranya :
- Segara untuk bertaubat
- Tenangnya hati
- Banyak beramal
Tapi sebaliknya jika kita melupakan yang namanya mati kita pasti akan melakukan :
- Banyak menunda taubat
- Hati yang gelisah
- Beramal yang kurang
Tapi yang namanya dzikrul maut bukan berarti harus meninggalkan kehidupan dunia. Karena Rasulullah tidak menyukai orang yang mementingkan kehidupan akhirat tapi melupakan kehidupan dunia.
kesimpulannya, kita tidak akan pernah tahu kapan dan dimana kita mati oleh karena itu kita harus senantiasa untuk mempersiapkan bekal untuk nanti disaat waktu kita telah habis hidup di dunia yaitu dengan beriman, bertaqwa dan beramal shaleh. Wallahu a’lam bishshowab.
nama : Arif Munandar
kelas : 3a Mu’allimien
Pesantren Persatuan Islam no.1 Bandung